![]() |
| Rombongan pejabat yang berfoto di jalur Sitinjau Lauik |
PADANG, salingkanagari.id — Aksi rombongan yang diduga membawa pejabat penting mendadak jadi sorotan tajam publik setelah video mereka “berpesta foto” di tikungan ekstrem Sitinjau Lauik viral di media sosial.
Dalam video yang beredar luas, terlihat iring-iringan mobil dengan pengawalan patwal polisi berhenti tepat di titik paling rawan—tikungan curam Panorama I, jalur lintas vital penghubung Kota Padang dan Kota Solok. Bukannya segera melanjutkan perjalanan, sejumlah orang justru turun dari kendaraan dan asyik berfoto di pinggir jalan, bahkan hingga ke badan jalan.
Tak cukup sampai di situ, momen foto juga diambil dari berbagai sudut ekstrem, termasuk dari bagian atas tikungan. Aksi ini makin menuai kritik karena rombongan terlihat santai bersalaman di tengah jalan, seolah-olah lokasi tersebut adalah area privat, bukan jalur umum dengan risiko kecelakaan tinggi.
Akibat ulah tersebut, arus lalu lintas sempat tersendat. Sejumlah kendaraan, termasuk truk, terpaksa berhenti di tanjakan curam yang dikenal berbahaya. Warganet pun langsung bereaksi keras, menilai tindakan itu tidak sensitif terhadap keselamatan pengguna jalan lain.
Rombongan tersebut disebut-sebut berkaitan dengan politisi Arteria Dahlan, meski hingga kini belum ada klarifikasi langsung darinya.
Pihak Polda Sumatera Barat membenarkan kejadian itu, namun menyebut peristiwa tersebut terjadi sekitar sepekan lalu, bukan kejadian baru. Dirlantas Kombes M. Reza Chairul menjelaskan bahwa penghentian kendaraan di lokasi tersebut kerap dilakukan pengendara untuk memberi tali asih kepada sukarelawan pengatur lalu lintas.
Namun, publik tampaknya tak mudah menerima alasan tersebut. Pasalnya, dalam video terlihat jelas aktivitas dokumentasi yang cukup lama dan berpotensi membahayakan.
Meski polisi menyebut kejadian hanya berlangsung sekitar satu menit, kritik tetap mengalir deras. Terlebih, aparat pengawal dari Satlantas Polres Solok Kota diketahui telah mendapat teguran dari pimpinan.
Peristiwa ini kembali memantik perdebatan soal etika pejabat di ruang publik. Di tengah tingginya risiko jalur ekstrem seperti Sitinjau Lauik, aksi yang dinilai abai keselamatan ini dianggap sebagai contoh buruk—bahwa kekuasaan seolah bisa “menghentikan” jalan umum sesuka hati.
