Notification

×

Iklan

Iklan

Tak Peduli Bahaya! Guru di Limapuluh Kota Terobos Jalan Hancur Demi Anak Bangsa

Senin, April 13, 2026 | 19:52 WIB | Last Updated 2026-04-13T12:52:23Z
Guru di Maek yang pantang menyerah untuk mengajar meskipun harus menempuh jalur yang ekstrim 

LIMAPULUHKOTA, salingkanagari.id  — Sebuah video memilukan sekaligus mengguncang publik jagat maya. Perjuangan guru Sekolah Dasar di pelosok Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota ini bukan sekadar cerita pengabdian—melainkan potret nyata taruhan nyawa demi pendidikan.


Setiap pagi, para guru harus menembus jalur ekstrem yang lebih layak disebut “jalan neraka”. Akses sepanjang sekitar 13 kilometer itu sebagian masih berupa tanah bercampur batu napar licin, dengan aliran air membelah badan jalan. Saat hujan turun, jalur berubah menjadi kubangan lumpur mematikan yang siap menjatuhkan siapa saja.


Motor tergelincir, tubuh terhempas, hingga harus saling dorong kendaraan di tengah jalan berlumpur menjadi pemandangan harian. Ironisnya, sebagian besar dari mereka adalah guru perempuan yang tetap bertahan di tengah ancaman bahaya.


Tak jarang, mereka harus berjibaku berjam-jam hanya untuk mencapai sekolah. Bahkan, satu kilometer jalur terparah menjadi titik paling mengerikan—licin, berlumpur, dan dialiri air tanpa drainase.


Namun di balik kerasnya medan, semangat mereka tak tergoyahkan. Demi mencerdaskan generasi di pelosok negeri, para guru ini seolah menyingkirkan rasa takut dan lelah. Mereka tetap melangkah, meski risiko selalu mengintai di setiap tikungan jalan rusak.


Video perjuangan ini pun viral dan menuai gelombang empati dari masyarakat luas. Banyak yang menilai kondisi tersebut sebagai tamparan keras bagi pembangunan infrastruktur di daerah terpencil.


Padahal, perbaikan jalan ini bukan tanpa usulan. Berkali-kali telah diajukan melalui forum Musrenbang, namun hingga kini belum juga terealisasi. Jalan penghubung antara Kecamatan Bukit Barisan dan Kapur IX itu masih dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan.


Wali Nagari Maek, Efrizal Hendri, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut jalan itu merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota karena menghubungkan dua kecamatan.


Harapan pun disuarakan: agar pemerintah kabupaten maupun provinsi segera turun tangan. Sebab, jalan ini bukan hanya akses masyarakat, tetapi juga urat nadi pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil.


×
Berita Terbaru Update