![]() |
| PKK Padang Panjang saat meninjau SPPG |
PADANG PANJANG, salingkanagari.id — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi ujung tombak pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan, kini mendapat sorotan serius. Ketua Tim Penggerak PKK Kota Padang Panjang, Maria Feronika Hendri, turun langsung meninjau dapur MBG di wilayah Padang Panjang Timur (PPT), Jumat (10/4/2026).
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan inspeksi menyeluruh terhadap kesiapan dapur dalam menjalankan program strategis tersebut. Didampingi sejumlah OPD terkait seperti Dinas Sosial PPKBPPPA, Dinas Pangan dan Pertanian, serta jajaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Maria menyoroti berbagai aspek krusial yang dinilai masih perlu pembenahan.
Dari hasil peninjauan, ditemukan bahwa meskipun operasional dapur telah berjalan, sejumlah standar penting belum sepenuhnya optimal. Mulai dari tata kelola kebersihan lingkungan, pemisahan area pengolahan makanan, hingga sistem distribusi yang masih membutuhkan penguatan agar lebih efisien dan aman.
“Kita tidak hanya bicara soal ketersediaan makanan, tetapi juga kualitas dan higienitasnya. Ini menyangkut kesehatan masyarakat. Jangan sampai program baik ini justru menyisakan risiko baru,” tegas Maria dalam dialog terbuka bersama pengelola dapur.
Ia secara khusus menyoroti pentingnya pemisahan ruang pengolahan makanan basah dan kering yang dinilai belum maksimal. Selain itu, pengelolaan peralatan dapur dan sistem penyimpanan bahan pangan juga menjadi perhatian serius, mengingat hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas gizi dan keamanan konsumsi.
Tak hanya itu, Maria juga menilai perlunya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di dapur MBG. Ia mendorong adanya pelatihan rutin bagi petugas agar mampu bekerja secara profesional, sesuai standar pengolahan makanan yang sehat dan aman.
“SDM adalah kunci. Jika petugas dibekali keterampilan yang memadai, maka kualitas layanan akan ikut meningkat. Ini tidak bisa dianggap sepele,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberhasilan program MBG tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah daerah, pengelola dapur, hingga masyarakat agar program ini benar-benar tepat sasaran dan berkelanjutan.
Sementara itu, pihak SPPG menyatakan terbuka terhadap kritik dan masukan yang diberikan. Mereka berkomitmen melakukan evaluasi internal dan segera menindaklanjuti berbagai catatan yang disampaikan dalam kunjungan tersebut.
Peninjauan ini menjadi sinyal bahwa pengawasan terhadap program MBG tidak boleh longgar. Di tengah harapan besar masyarakat terhadap pemenuhan gizi yang layak, kualitas layanan menjadi taruhan utama. Tanpa pembenahan serius, program ini berisiko kehilangan esensi utamanya: menghadirkan makanan sehat, aman, dan bergizi bagi yang membutuhkan.
