Notification

×

Iklan

Iklan

UNESCO Soroti Nagari Ampiang Parak, Jadi Contoh Nasional Kesiapsiagaan Tsunami di Indonesia

Kamis, Juli 16, 2026 | 11:31 WIB | Last Updated 2026-07-16T04:32:23Z

 

webinar nasional di Pusat Edukasi Laskar Pemuda Peduli Lingkungan (LPPL) Ampiang Parak dan diikuti unsur pemerintah daerah, BPBD

Pesisir Selatan,  – Komitmen Nagari Ampiang Parak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, dalam membangun budaya siaga bencana kembali mendapat pengakuan internasional. Bertepatan dengan peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran 2006, UNESCO menyoroti Nagari Ampiang Parak sebagai salah satu komunitas percontohan yang dinilai berhasil memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami.


Pengakuan tersebut disampaikan dalam webinar nasional yang digelar pada Kamis (16/7/2026). Dari Kabupaten Pesisir Selatan, kegiatan dipusatkan di Pusat Edukasi Laskar Pemuda Peduli Lingkungan (LPPL) Ampiang Parak dan diikuti unsur pemerintah daerah, BPBD, pemerintah nagari, serta komunitas siaga bencana.


Turut hadir Kepala Pelaksana BPBD Pesisir Selatan Armen, AP., MM beserta jajaran, Kepala Dinas Kominfo Pesisir Selatan Wendi bersama tim, Camat Sutera, Wali Nagari Ampiang Parak beserta perangkat nagari, serta Ketua LPPL Ampiang Parak Haridman bersama anggota kelompok siaga bencana.


Dalam pemaparannya, UNESCO mengungkapkan bahwa hanya terdapat tujuh desa dan komunitas di Indonesia yang ditetapkan sebagai pionir Desa Tangguh Bencana binaan UNESCO. Lima di antaranya berada di Pulau Sumatera, termasuk Nagari Ampiang Parak, sementara dua lainnya berada di Pulau Jawa.


Selain Nagari Ampiang Parak, desa dan komunitas yang masuk dalam jaringan tersebut yakni Tua Pejat di Kepulauan Mentawai, Desa Citepus dan Desa Cikakak di Banten, serta Desa Teluk Sepang, Desa Penurunan, dan Desa Lempuing di Provinsi Bengkulu.


Perwakilan UNESCO, Engin Koncagul, menegaskan bahwa ketujuh desa tersebut dipilih karena menunjukkan komitmen tinggi dalam membangun ketangguhan masyarakat. Respons cepat, edukasi berkelanjutan, serta keterlibatan aktif masyarakat menjadi indikator utama dalam penilaian, terutama menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami.


Webinar juga menghadirkan ahli kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Pepen Supendi, yang memaparkan sejarah gempa dan tsunami di Indonesia, mekanisme gempa megathrust, hingga potensi ancaman yang masih membayangi wilayah pesisir barat Sumatera.


Ketua LPPL Ampiang Parak, Haridman, menegaskan bahwa edukasi kebencanaan akan terus diperkuat melalui kolaborasi bersama BPBD, pemerintah daerah, pemerintah nagari, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.


Menurutnya, membangun budaya sadar bencana merupakan langkah penting agar masyarakat memahami tindakan yang harus dilakukan saat gempa maupun tsunami terjadi.


"Tujuan kami adalah memastikan setiap warga mengetahui cara menyelamatkan diri ketika bencana datang. Edukasi dan latihan harus terus dilakukan agar kesiapsiagaan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat," ujarnya.


Haridman menambahkan, penguatan kapasitas masyarakat menjadi kebutuhan mendesak mengingat Kabupaten Pesisir Selatan berada di kawasan yang berhadapan langsung dengan zona megathrust di pantai barat Sumatera dan memiliki garis pantai sepanjang sekitar 243 kilometer.


Melalui edukasi berkelanjutan, simulasi evakuasi, serta sinergi seluruh elemen, Nagari Ampiang Parak diharapkan terus menjadi contoh nasional dalam membangun masyarakat yang tangguh dan siap menghadapi potensi bencana di masa mendatang.